adakalanya manusia hidup berhenti bergerak, berhenti menyapa, berhenti untuk jujur atau berbohong
ada saatnya berhenti berfikir, berhenti merasakan lalu berhenti mengusung segala kedalaman nurani
Pun manakala dalam suatu peristiwa
ada seorang lelaki, berwajah rapuh, bermata sunyi, perawakan tegap tegar menentang semua yang akan terjadi nanti, dan jiwanya memeluk empati
ia ditugaskan oleh waktu menjadi dirinya sendiri disaat saat hari kematiaanya.
untuk apa marah pada kenyataan?
untuk apa benci pada pengkhianat?
untuk apa bosan pada yang kau cintai?
mereka hanya tidak tahu,
bahwa diam ku menyelamatkan mereka,
meredakan kelelahan emosional ku
mengisi kembali jiwa yang kosong terkuras,
menambah ruang yang telah penuh
mengisi kembali relung dengan langit yang ceria,
sehingga nanti aku kembali,
untuk membayar dosa - dosa ini.
F.r