Selasa, 26 Mei 2020

KOPI PAGI

Pagi ini
aku merapikan bingkisan rindu di dalam kalbu
merapihkan emosi yang berantakan di setiap sudut fikiran ini,
tentu aku sedikit tenang
karena
kopiku menemani mimpi bersahaja
ku teguk mencicipi keseimbangan hati
yang bersinambung dalam doa,
yang menghunus suatu rasa, lalu menancapkan padamu di waktu yang tepat.

Pagi ini seperti pagi biasa
pagi yang tak berubah,
pagi yang membuat ku berulah
merayu takdir agar kita ditentukan bersama
merayu waktu agar tak berlalu nikmatnya secangkir kopi.

Minggu, 24 Mei 2020

i'm very lucky to be loving you🖤



I was very lucky to wake my
love at the bottom ...

because I'm staying here for
you to see you ...

hear me sing at night
hear me dance in the afternoon

for you my every soul

fly with you
fly with you
enjoy the world with our love

happy with you
happy with you
because i'm very lucky to be loving you




onlyone.N..

Rabu, 20 Mei 2020

terselamatkan

Aku berdiri disudut mata angin
pada pagi yang berkicau merdu
pada candu memilikimu
sebab kamu yang telah lama berlari
untuk menggapai relung hati ini,

anak angin bermain di bawah kolong langit,
membelah puluhan kekhawatiran
merasuk hati sang surya
pindah randah menerangi gelap.

Aku berduri tajam
tak ada tunas di sekitarku
aku melambai pada matahari
tak ada bayangan mengelilingiku
aku menjelajahi setiap mata yang memandang,
aku hanya tertarik pada matamu

aku tersesat saat badai meteor
aku terselamatkan mimpimu dan jiwaku.



Senin, 18 Mei 2020

indah yang menjadi pahit

Jika waktu denganmu
hanya sebuah kisah fatamorgana
aku tak bisa membencimu walau dengan kesalahan terbesarmu
dengan perbedaan kita
dengan cinta dan rindu yg terluka
karena aku pernah dan masih
mencintaimu

aku merasakannya, sakit sekali, perih sekali, sesak sekali didada...

kini terisak-isak dalam diam,
terusik harapan yang sirna
tarik saja pelatuk itu
bunuh saja aku...
kubur aku dalam diamku
pinta aku melenyapkan rasa juga raga
menggelamkan ini semua dalam tangis.

mengapa ini semua berakhir seperti duka, seperti lara yang membara
membuat aku berjalan dalam gelap
tanpa pelitamu, tanpa hadirmu..
tadi dekat sekarang jauh
sia-sia aku bergembira bisa bernafas lagi denganmu,
jika ternyata aku sendiri saat ini yang menggali, lalu menguburkan diriku dan semua ini,

indah yang menjadi pahit
aku terima.


Jumat, 15 Mei 2020

wanita di jembatan

Hallo ...

saya akan kembali bercerita tentang peristiwa (kejadian) horor kisah nyata

kejadian ini sebenarnya mirip dengan cerita saya sebelumnya yaitu,
"dikejar pocong"

tapi dengan set dan tempat yang berbeda
ini bukan cerita pribadi saya,
tapi ini cerita saudara saya (endang)
langsung saja,
seperti ini ceritanya...


Kami sekeluarga tinggal di area pedesaan yang asri, sejuk, dan tenang di kota Malang
kami tinggal di satu rumah sederhana,
ada ibuku, adikku laki-laki dan aku(endang)
ayahku sudah lama meninggal.


Singkat cerita


malam itu aku sedang mencuci piring,
adikku sudah beranjak ketempat tidur
dan ibuku sedang merapikan baju di lemari,
aku harus segera tidur
karena di keluarga kami kita selalu tidur cepat jam 8 saja sudah ngantuk sekali rasanya, maka aku mempercepat pekerjaan rumah ku yang terakhir mencuci piring...
kami selalu bangun pagi sekali,
biasanya ibuku bangun jam setengah 4
aku bangun jam 4 karena kita harus menyiapkan keperluan sekolah dan juga menyiapkan dagangan untuk ibu bawa kepasar,
adikku bangun paling akhir sekitar jam 5 biasanya,
kami terkadang shalat subuh bersama,
walaupun terkadang tidak sempat shalat juga,
entah karena kesiangan atau
karena memang selalu saja setiap pagi banyak pekerjaan yang harus kita lakukan.

Tugasku setelah bangun aku harus buang sampah di jembatan,
aku sendiri yang memilih tugas itu, tapi terkadang adikku yang buang sampah
lalu setelah buang sampah, aku membuat teh, setrika seragam sekolah, memompa air untuk mandi, mengisinya di ember-ember yang sudah di sediakan, dan kadang membantu ibu menyiapkan kue-kue untuk di bawa ibu berjualan di pasar.


Pagi itu aku bangun sekitar pukul 04:00
seperti biasa adikku masih tidur,
huuhh.. sengaja sekali dia setiap pagi seperti ini, "ujarku"

memang adikku ini sengaja tidak bangun lebih dulu supaya tidak buang sampah,
akhirnya aku beranjak keluar kamar,
aku langsung ke dapur mengambil ember sampah,
tapi kulihat kok ibu tidak ada
ah.. mungkin ibu di sumur jemur pakaian "fikirku"
memang kita punya sumur yang airnya sering kotor, jadi kita buat pompa saja, dan sumur ditutup dan di sekitar sumur dibuatkan tali jemuran,


lanjut aku berjalan sambil menenteng ember sampah,
aku melewati ruang tamu dan keluar lewat pintu depan
aku berjalan pelan karena ember sampah nya lumayan berat juga
tapi kok rasanya sepi banget ya
biasanya jam segini tuh udah ada bapak -bapak keluar rumah dengan sarung untuk shalat di masjid,
rumahku tidak jauh dari masjid hanya sekitar 50 meter.

aku berjalan sampai di depan masjid
aku lihat kok tidak ada orang ya di masjid,
tumben biasanya udah ada beberapa orang jam segini di masjid, juga ada saja ibu-ibu berjalan ke pasar sambil menuntun sepeda yang sepedanya di muat karung-karung sayur,
tapi kok ini sepi sekali ya
pada kemana ya orang-orang "fikirku"
ah sudahlah yang penting aku buang sampah saja
aku melanjutkan perjalanan,
sesampainya aku di satu persimpangan aku belok ke kiri
dan setelah belokan itu tidak jauh lagi jembatan hanya sekitar 100 meter lagi.

jalan panjang 100 meter itu mengarah menuju jembatan akan terasa jalan semakin menanjak, dan setelah jembatan jalan akan lebih menanjak lagi dan semakin tinggi jalan menanjak itu

aku harus membawa ember sampah yang memang cukup berat melawati jalan menanjak, cukup melelahkan juga
tapi aku tetap berjalan...
mendekati jembatan, aku melihat ada seorang wanita yang berperawakan cukup besar dan tinggi, ia menggenakan jubah putih panjang sampai menyentuh tanah, rambutnya hitam acak-acakan tapi panjang juga sampai menyentuh tanah,
mukanya tertutup rambutnya yang lebat,
wanita ini bersandar pada tiang jembatan, sambil dari balik jubahnya tangannya memain-mainkan rambutnya...
Aku yang masih kecil polos dan lugu berjalan menghampirinya,
dengan ramah aku mulai menegur membuka dialog dengan wanita itu,...

mba... laopo toh mba ndek kene?
arep ngenteni wong toh
(mba... ngapain disini? mau nungguin orang ya)
"wanita ini diam saja"
aku bertanya lagi ...

mba... arep nang pasar yoo?
ngenteni becak ndek jalan raya mba, ojo ndek kene,
(mba ... mau ke pasar ya? nungguin becak di jalan raya mba, jangan disini)
tapi lagi-lagi wanita diam saja ...
ah.. masa bodo lah "fikirku"

aku membuang isi ember sampah ke kali,
aku maju percis di sampingnya aku buang sampah dari atas jembatan,
setelah habis semua isi sampah di ember
aku kembali bertanya lagi, karena penasaran...

mba... arep nang pasar pagi yo mba?
(mba... mau ke pasar pagi ya mba?)

kali ini wanita ini seperti bergumam
seperti bicara pelan,
aku bingung ini mba kenapa sih ya,
lalu dengan sedikit kesal sedikit keras aku bertanya sambil sedikit membentak...

mbaaaaa... mbaaa nya laopoo sehhh, di tanyaaa kok meneng baeee....

lalu berikut nya aku kaget sekaget kagetnya,
mba ini tertawa cekikikan...
seperti suara "kuntilanak" tertawa hii hiiiih.....hihiiiiiii hiiiihiii.... nyaring sekali tepat di sampingku, .... suara tawa cekikikan itu semakin menjadi dan panjang... hiiiiiiiii....hiiiihiihiiiiii....hihiiiiiii......
aku mulai ketakutan bercampur kaget,

dengan respon cepat,
aku angkat ember sampah lalu aku lempar percis ke tubuhnya ....

lalu sosok "kuntilanak" itu terbang bersama gaun jubah putih panjangnya itu mengarah ke arah tanjakan, terbang begitu saja dengan cepat ...
sontak aku kaget sambil mundur satu langkah kebelakang,
aku lihat "kuntilanak" ini terbang,
tapi...
gaun putih nya masih ada di depanku juga rambutnya yang panjang...
ah... mulutku ternganga seakan tidak percaya...

aku mengambil langkah seribu,
berlari secepat mungkin menuju ke arah masjid lalu ke rumah...

aku terus berlari tidak perdulikan sekeliling,
aku tetap berlari kencang,
sesampainya di rumah aku membuka pintu lalu masuk ke kamar,
aku melihat ibu sedang tidur,
aku bangunkan ibu, ibu bangun sambil terkaget juga,
kamu kenapa ndok? tanya ibu...
kok kayak habis ngelihat demit gitu wajahmu...

aku ceritakan kejadian tadi, adikku bangun,
aku ceritakan semuanya...
ternyata ibu bilang...
kamu gimana sih ini tuh masih jam 2 malam...
ngapain kamu buang sampah jam segini ndok... di jembatan itu memang angker ...
aku melihat jam ternyata benar ini masih jam 2 .....

dan semenjak kejadian itu, kami tidak lagi buang sampah subuh, kami buang sampah sore ....




Ini sekilas cerita saudaraku di malang, masih ada beberapa cerita pengalaman mistis kisah nyata, cerita ku pribadi atau cerita-cerita orang terdekatku yang akan aku bagikan lagi.

terimakasih sudah membaca cerita ini.












Kamis, 14 Mei 2020

dikejar "POCONG"

Hai perkenalkan namaku noval
aku ingin bercerita
satu peristiwa yang sangat mencekam dan sungguh sangat membuat traumatis dalam hidupku
langsung saja,
seperti ini ceritanya....

Kejadian ini cukup lama dan cukup sulit untuk saya mengingat kejadian ini,
waktu itu saya masih kecil, sekitar kelas 3 atau 4 sd

kami sekeluarga tinggal di satu kontrakan 3 petak dengan teras yang cukup luas,
di teras dibuatkan pagar bambu kecil.

Karena memang hanya cuma ada satu kamar jadi kami tidur bersama, ayah, ibu dan 1 adik ku perempuan.

Malam itu seperti biasa aku tidur jam 9 malam, sehabis belajar, biasanya aku cuci kaki, sikat gigi, lanjut tidur
malam itu tidurku cukup lelap
sampai pada tengah malam sekitar jam 12, "aku terbangun"...

aku melihat ke kanan dan ke kiri,
cuma ada adikku saja,
"fikirku" ... kemana orang tuaku?
aku memeriksa ruang tamu dan dapur
tapi, tidak ada siapapun...
"Mungkin orang tuaku pergi kerumah temannya" ujarku dalam hati.

Biasanya orang tuaku selalu pergi kerumah temannya untuk sekedar ngobrol, minum kopi sampai pagi,
dan aku tahu rumah tante itu (aku lupa nama tante itu)
aku berencana mau menyusul orang tuaku ke rumah tante, karna "fikirku" biasanya kalau disana mereka suka bakar-bakar ikan, atau jagung, lumayan kan, bisa makan gratis, karna memang "aku lapar malam itu"
tanpa fikir panjang, aku keluar rumah menutup pintu, dan berjalan keluar

perjalanan lumayan jauh, tapi tidak dekat juga, cuma perjalanan harus melewati kampung yang masih cukup jarang rumah,
lebih banyak pohon pisang dan pohon bambu,
minim penerangan jalan, karena lampu cuma ada di rumah warga,
juga jalan yang masih tanah, tidak rata, berlubang dan sama sekali tidak di aspal...
kebayang kan jalan itu kalau di lalui sepeda atau motor tidak bisa melaju dengan cepat,

dalam perjalanan aku berjalan pelan, menyeret sendal, kadang jinjit, seperti tidak berjalan cepat, karena aku harus memilih jalan yang cukup baik untuk di pijak,

aku mendengar ramai sekali suara orang-orang berbincang,
seperti ada suara tv juga, ada tangisan anak kecil, "fikirku" ini seperti jam 7 malam masih sangat ramai
padahal ini jelas tengah malam,
aku menoleh ke kanan ke kiri,
sepi sepi saja, rumah tidak ada yang terbuka pintunya, bahkan rumah warga sekitar mati semua lampunya, hanya lampu teras saja yang menyala, sudah tidur semua kayaknya orang-orang,

"seperti ada yang janggal" ucapku dalam hati
tapi aku tidak mau terlalu menggubris kejadian itu,
sampai lah aku pada satu jalan,
yang kalau aku lurus aku akan melewati rumah-rumah orang madura, kenapa begitu, karena banyak gerobak sate di depan rumah-rumah itu, tapi..
di sekitar pemukiman madura itu ada 4 kuburan keluarga, yang bagiku siang saja aku lewat cukup menyeramkan, apalagi malam hari...
ah.. aku tidak mau lewat situ
mending aku belok kanan saja,
setelah berbelok aku mulai merasakan lebih was-was,
kok seperti ada yang memperhatikanku
tapi tidak ada orang satu pun aku tengok kekanan dan kekiri,
ini aneh juga rasanya, "fikirku" kenapa angin malam ini semakin dingin
seperti mau hujan, dan cukup kencang,
aku mulai ketakutan sendiri
aku bergegas jalan cepat dan tidak mau menoleh kemanapun, apalagi kebelakang
terus aku berjalan..

sampai aku di persimpangan,
sebenarnya tadinya ini pertigaan,
tapi yang dipakai hanya jalan berbelok kekiri, karena kanan nya sudah ditutup dan diganti selokan besar yang terapit dinding-dinding rumah warga sekitar...
semakin jauh bila kita melihat jalan itu, semakin ujung, ada kuburan tua yang gelap, hanya terlihat batu nisan dan beberapa gundukan tanah,
sebenarnya kuburan itu cukup luas,
tapi karena hanya dari sudut pandang ujung selokan tadi, jadi hanya terlihat beberapa kuburan.

Setelah sampai di persimpangan
seharusnya aku belok kekiri,
tapi entah kenapa aku hanya berdiri di tengah persimpangan,
aku seperti terpanggil untuk menoleh ke kanan kearah selokan panjang itu,
dan setelah aku menoleh, aku melihat dari kejauhan, tampak batu nisan dan kuburan yang cukup besar,
semakin jelas aku melihat seperti cahaya atau lampu neon besar yang berdiri tegak berdiri di depan kuburan itu,
aku terus memperhatikan,
aku terkejut, cahaya itu seperti secara perlahan berdiri tegak lalu sedikit membungkuk, tegak lagi bungkuk lagi, tegak lagi, bungkuk lagi...
berulang ulang dengan perlahan,

"aneh sekali" ucapku dalam hati...
tapi aku terus melihat dengan mata terbuka lebar, karena penasaran

lama kelamaan aku perhatikan,
kok sepertinya cahaya itu berubah bentuk seperti tubuh manusia, tapi terlihat dari samping
aku terus mengarahkan mataku tajam semakin dalam aku cermati,
dan ternyata baru aku sadar ternyata itu
"POCONG"
aku kaget setengah mati,
kepalaku rasanya membesar, degup jantung mulai cepat berpacu, nafasku terasa berat dan sesak, aku berusaha menarik nafas dalam-dalam
tapi aku tetap mematung di tengah persimpangan itu, kakiku keram, sulit untuk digerakkan, susah rasanya aku memalingkan mata ini aku hanya berfokus pada sosok itu di ujung sana,
dan celakanya...
sosok itu menggerakkan tubuhnya, dari yang tadi nya aku melihatnya dari samping menjadi tepat menghadap ke arah ku,
aku semakin frustasi, tapi di lain sisi, aku tidak bisa bergerak, entah kenapa aku berkeringat, dan gemetar sekujur tubuh, terutama kakiku
aku jelas melihat sosok itu walau dari kejauhan, aku melihat wajahnya, yang hitam pekat semua, dengan ikatan diatas kepalanya yang jelas terlihat,
tapi semakin lama aku melihat sosok ini semakin mendekat sepertinya ia terbang dengan sangat pelan mendekatiku,
dengan sangat halus terbang semakin dekat,
mau pingsan aku rasanya berdiri tidak kuat lagi,
sambil berucap dalam hati aku harus lari, aku harus pergi , lari noval, lari lari lari,...
aku memutar badanku aku lari kearah berlawanan, yang kalau dari persimpangan seharusnya aku kekiri, aku lari kearah itu...

dengan langkah panjang,
aku lari terbirit-birit
aku berlari dengan cepat tanpa menoleh kebelakang
sendalku lepas satu, aku tidak perduli
yang penting lari sekencang mungkin,
dan dengan kacaunya aku berlari ketakutan,
aku sampai menabrak tiang listrik, pohon jambu, tanaman di pinggir rumah warga
aku terus berlari berharap meninggalkan jauh "POCONG" itu
tujuanku kerumah tante
semakin dekat aku dan sampai lah aku di rumah tante
tapi,
pagarnya terkunci
dari luar pagar aku lihat rumah tante gelap, seperti tidak ada orang dirumahnya,
padahal seharusnya kalau orang tuaku ada di sini seharusnya mereka ada dihalaman depan rumah duduk-duduk disitu, bersama sitante dan suaminya, tapi ini sepi dan membuat aku semakin ketakutan
akhirnya aku putuskan aku lari lagi pulang tapi dengan jalan yang berbeda,
aku berlari terus, tanpa sedikit pun melambat apalagi berjalan, suasana dingin dan mencekam,
sambil berlari aku berfikir
tidak mungkin aku lewat persimpangan itu lagi,
aku hanya ingat dua jalan,
satu lewat persimpangan tadi, dan satu lagi lewat kuburan di pemukiman madura,
yang mana harus kulewati,
aku bertanya-tanya
aku kelelahan, dadaku kembang kempis nafas tak karuan, keringat mengalir deras, dan jantung yang berpacu cepat
aku jalan cepat dan tidak berlari
sambil sejenak mengistirahatkan tubuhku,
aku menoleh kebelakang tidak ada sosok itu,
akhirnya aku putuskan untuk lewat pemukiman madura dengan syarat yang kubuat sendiri... "jangan pernah aku menoleh kearah kuburan itu"

aku kembali berlari
dan ketika akan sampai di pemukiman madura itu aku mempercepat langkahku,
langkah panjang yang sangat lebar ,
dan ini yang paling membuat aku teramat sangat ketakutan,
saat lewat di kuburan itu,
dari ekor mata aku melihat "POCONG" itu lagi, ia berdiri tegak di atas kuburan di depan pohon pisang
aku berlari sambil menangis dan berteriak dalam hati,
bayangkan aku berlari dengan kondisi tanah yang tidak beraturan dengan batu batu tajam aku hantam itu semua
dengan berlari cepat dan sambil menangis,

semakin dekat rumahku
lalu sesampainya di depan rumah
dengan masih berlari cepat,
aku tabrak pagar bambu dan hancur juga patah pintu pagar bambu itu, aku gedor keras pintu rumah, berulang dan ternyata tidak terkunci, aku buka aku masuk dan ternyata , orang tuaku terbangun dan juga adikku, terkaget kaget melihat ku begitu pucat dan berkeringat
aku lemas aku jatuh terduduk.

ya benar ternyata orang tuaku tidak kemana-mana ia tidur sepanjang malam,
aku melihat jam pukul 01:00
itu waktu terpanjang dan malam terpanjang yang mencekam dalam hidupku,
celanaku basah, aku kencing dicelana
orang tuaku menghampiriku, menanyai ku, aku tidak menjawab sepatah kata pun,
aku tidak bisa berkata- kata aku di berikan segelas air putih, aku minum aku mulai menenangkan diri cukup lama, dan setelah tenang aku menceritakan semua kejadian itu, dan tidak lama kemudian hujan turun.

keesokan harinya aku sakit demam panas tinggi 3 hari

inilah ceritaku, salah satu pengalaman horor yang tidak bisa aku lupakan, dan masih ada beberapa lagi kisah horor yang akan aku bagikan di lain kesempatan.

Terima kasih sudah membaca cerita ini.








Rabu, 13 Mei 2020

sebuah perjalan

Dalam perjalanan
aku bertanya
"apakah yang sedang terjadi"
alam semesta
tak sepaham denganku
kau pergi tak pernah kembali

aku terdiam
dalam sanubariku
dan kulihat sekelilingku...

Matahari tenggelam
di jantung kerinduan
berganti malam
yang sepi dan kusendiri

langit berbisik pelan
bicara pada bintang-bintang
bahwa di hatiku
aku mengukir "namamu" .

Kamis, 07 Mei 2020

aku ditipu alam dan waktu

Waktu menjadi cepat
hari menjadi lambat
bulan pun tergesa-gesa mengejar tahun,
di dunia fana
kadang aku kehilangan tanda
arah angin mengecoh debu yang sedang berjalan lenggang.


demikian sabda alam hari ini.

Senin, 04 Mei 2020

karsa

Ada sebuah pertanda
tentang jiwa yang luluh lantak
tentang hati yang bersandiwara
memainkan peran berlatar pelangi

Ada di suatu peristiwa
aku memunguti ratusan kepingan yang berbeda
antara dosa, rindu, antara kenyataan, dan kenangan

lebih baik aku menjadi arah jalan
daripada aspal jalan yang menopang,
tapi terus terinjak-injak
lebih baik aku bernyanyi menghibur karsa yang kini redup.


jika kau membenci ku dengan seluruh hidupmu

Jika kau membenci ku dengan seluruh hidup mu, Dengan angin yang menghempas rasa sakitmu lagi, lagi dan lagi   Dengan air mata mu yang yang k...