Kamis, 14 Mei 2020

dikejar "POCONG"

Hai perkenalkan namaku noval
aku ingin bercerita
satu peristiwa yang sangat mencekam dan sungguh sangat membuat traumatis dalam hidupku
langsung saja,
seperti ini ceritanya....

Kejadian ini cukup lama dan cukup sulit untuk saya mengingat kejadian ini,
waktu itu saya masih kecil, sekitar kelas 3 atau 4 sd

kami sekeluarga tinggal di satu kontrakan 3 petak dengan teras yang cukup luas,
di teras dibuatkan pagar bambu kecil.

Karena memang hanya cuma ada satu kamar jadi kami tidur bersama, ayah, ibu dan 1 adik ku perempuan.

Malam itu seperti biasa aku tidur jam 9 malam, sehabis belajar, biasanya aku cuci kaki, sikat gigi, lanjut tidur
malam itu tidurku cukup lelap
sampai pada tengah malam sekitar jam 12, "aku terbangun"...

aku melihat ke kanan dan ke kiri,
cuma ada adikku saja,
"fikirku" ... kemana orang tuaku?
aku memeriksa ruang tamu dan dapur
tapi, tidak ada siapapun...
"Mungkin orang tuaku pergi kerumah temannya" ujarku dalam hati.

Biasanya orang tuaku selalu pergi kerumah temannya untuk sekedar ngobrol, minum kopi sampai pagi,
dan aku tahu rumah tante itu (aku lupa nama tante itu)
aku berencana mau menyusul orang tuaku ke rumah tante, karna "fikirku" biasanya kalau disana mereka suka bakar-bakar ikan, atau jagung, lumayan kan, bisa makan gratis, karna memang "aku lapar malam itu"
tanpa fikir panjang, aku keluar rumah menutup pintu, dan berjalan keluar

perjalanan lumayan jauh, tapi tidak dekat juga, cuma perjalanan harus melewati kampung yang masih cukup jarang rumah,
lebih banyak pohon pisang dan pohon bambu,
minim penerangan jalan, karena lampu cuma ada di rumah warga,
juga jalan yang masih tanah, tidak rata, berlubang dan sama sekali tidak di aspal...
kebayang kan jalan itu kalau di lalui sepeda atau motor tidak bisa melaju dengan cepat,

dalam perjalanan aku berjalan pelan, menyeret sendal, kadang jinjit, seperti tidak berjalan cepat, karena aku harus memilih jalan yang cukup baik untuk di pijak,

aku mendengar ramai sekali suara orang-orang berbincang,
seperti ada suara tv juga, ada tangisan anak kecil, "fikirku" ini seperti jam 7 malam masih sangat ramai
padahal ini jelas tengah malam,
aku menoleh ke kanan ke kiri,
sepi sepi saja, rumah tidak ada yang terbuka pintunya, bahkan rumah warga sekitar mati semua lampunya, hanya lampu teras saja yang menyala, sudah tidur semua kayaknya orang-orang,

"seperti ada yang janggal" ucapku dalam hati
tapi aku tidak mau terlalu menggubris kejadian itu,
sampai lah aku pada satu jalan,
yang kalau aku lurus aku akan melewati rumah-rumah orang madura, kenapa begitu, karena banyak gerobak sate di depan rumah-rumah itu, tapi..
di sekitar pemukiman madura itu ada 4 kuburan keluarga, yang bagiku siang saja aku lewat cukup menyeramkan, apalagi malam hari...
ah.. aku tidak mau lewat situ
mending aku belok kanan saja,
setelah berbelok aku mulai merasakan lebih was-was,
kok seperti ada yang memperhatikanku
tapi tidak ada orang satu pun aku tengok kekanan dan kekiri,
ini aneh juga rasanya, "fikirku" kenapa angin malam ini semakin dingin
seperti mau hujan, dan cukup kencang,
aku mulai ketakutan sendiri
aku bergegas jalan cepat dan tidak mau menoleh kemanapun, apalagi kebelakang
terus aku berjalan..

sampai aku di persimpangan,
sebenarnya tadinya ini pertigaan,
tapi yang dipakai hanya jalan berbelok kekiri, karena kanan nya sudah ditutup dan diganti selokan besar yang terapit dinding-dinding rumah warga sekitar...
semakin jauh bila kita melihat jalan itu, semakin ujung, ada kuburan tua yang gelap, hanya terlihat batu nisan dan beberapa gundukan tanah,
sebenarnya kuburan itu cukup luas,
tapi karena hanya dari sudut pandang ujung selokan tadi, jadi hanya terlihat beberapa kuburan.

Setelah sampai di persimpangan
seharusnya aku belok kekiri,
tapi entah kenapa aku hanya berdiri di tengah persimpangan,
aku seperti terpanggil untuk menoleh ke kanan kearah selokan panjang itu,
dan setelah aku menoleh, aku melihat dari kejauhan, tampak batu nisan dan kuburan yang cukup besar,
semakin jelas aku melihat seperti cahaya atau lampu neon besar yang berdiri tegak berdiri di depan kuburan itu,
aku terus memperhatikan,
aku terkejut, cahaya itu seperti secara perlahan berdiri tegak lalu sedikit membungkuk, tegak lagi bungkuk lagi, tegak lagi, bungkuk lagi...
berulang ulang dengan perlahan,

"aneh sekali" ucapku dalam hati...
tapi aku terus melihat dengan mata terbuka lebar, karena penasaran

lama kelamaan aku perhatikan,
kok sepertinya cahaya itu berubah bentuk seperti tubuh manusia, tapi terlihat dari samping
aku terus mengarahkan mataku tajam semakin dalam aku cermati,
dan ternyata baru aku sadar ternyata itu
"POCONG"
aku kaget setengah mati,
kepalaku rasanya membesar, degup jantung mulai cepat berpacu, nafasku terasa berat dan sesak, aku berusaha menarik nafas dalam-dalam
tapi aku tetap mematung di tengah persimpangan itu, kakiku keram, sulit untuk digerakkan, susah rasanya aku memalingkan mata ini aku hanya berfokus pada sosok itu di ujung sana,
dan celakanya...
sosok itu menggerakkan tubuhnya, dari yang tadi nya aku melihatnya dari samping menjadi tepat menghadap ke arah ku,
aku semakin frustasi, tapi di lain sisi, aku tidak bisa bergerak, entah kenapa aku berkeringat, dan gemetar sekujur tubuh, terutama kakiku
aku jelas melihat sosok itu walau dari kejauhan, aku melihat wajahnya, yang hitam pekat semua, dengan ikatan diatas kepalanya yang jelas terlihat,
tapi semakin lama aku melihat sosok ini semakin mendekat sepertinya ia terbang dengan sangat pelan mendekatiku,
dengan sangat halus terbang semakin dekat,
mau pingsan aku rasanya berdiri tidak kuat lagi,
sambil berucap dalam hati aku harus lari, aku harus pergi , lari noval, lari lari lari,...
aku memutar badanku aku lari kearah berlawanan, yang kalau dari persimpangan seharusnya aku kekiri, aku lari kearah itu...

dengan langkah panjang,
aku lari terbirit-birit
aku berlari dengan cepat tanpa menoleh kebelakang
sendalku lepas satu, aku tidak perduli
yang penting lari sekencang mungkin,
dan dengan kacaunya aku berlari ketakutan,
aku sampai menabrak tiang listrik, pohon jambu, tanaman di pinggir rumah warga
aku terus berlari berharap meninggalkan jauh "POCONG" itu
tujuanku kerumah tante
semakin dekat aku dan sampai lah aku di rumah tante
tapi,
pagarnya terkunci
dari luar pagar aku lihat rumah tante gelap, seperti tidak ada orang dirumahnya,
padahal seharusnya kalau orang tuaku ada di sini seharusnya mereka ada dihalaman depan rumah duduk-duduk disitu, bersama sitante dan suaminya, tapi ini sepi dan membuat aku semakin ketakutan
akhirnya aku putuskan aku lari lagi pulang tapi dengan jalan yang berbeda,
aku berlari terus, tanpa sedikit pun melambat apalagi berjalan, suasana dingin dan mencekam,
sambil berlari aku berfikir
tidak mungkin aku lewat persimpangan itu lagi,
aku hanya ingat dua jalan,
satu lewat persimpangan tadi, dan satu lagi lewat kuburan di pemukiman madura,
yang mana harus kulewati,
aku bertanya-tanya
aku kelelahan, dadaku kembang kempis nafas tak karuan, keringat mengalir deras, dan jantung yang berpacu cepat
aku jalan cepat dan tidak berlari
sambil sejenak mengistirahatkan tubuhku,
aku menoleh kebelakang tidak ada sosok itu,
akhirnya aku putuskan untuk lewat pemukiman madura dengan syarat yang kubuat sendiri... "jangan pernah aku menoleh kearah kuburan itu"

aku kembali berlari
dan ketika akan sampai di pemukiman madura itu aku mempercepat langkahku,
langkah panjang yang sangat lebar ,
dan ini yang paling membuat aku teramat sangat ketakutan,
saat lewat di kuburan itu,
dari ekor mata aku melihat "POCONG" itu lagi, ia berdiri tegak di atas kuburan di depan pohon pisang
aku berlari sambil menangis dan berteriak dalam hati,
bayangkan aku berlari dengan kondisi tanah yang tidak beraturan dengan batu batu tajam aku hantam itu semua
dengan berlari cepat dan sambil menangis,

semakin dekat rumahku
lalu sesampainya di depan rumah
dengan masih berlari cepat,
aku tabrak pagar bambu dan hancur juga patah pintu pagar bambu itu, aku gedor keras pintu rumah, berulang dan ternyata tidak terkunci, aku buka aku masuk dan ternyata , orang tuaku terbangun dan juga adikku, terkaget kaget melihat ku begitu pucat dan berkeringat
aku lemas aku jatuh terduduk.

ya benar ternyata orang tuaku tidak kemana-mana ia tidur sepanjang malam,
aku melihat jam pukul 01:00
itu waktu terpanjang dan malam terpanjang yang mencekam dalam hidupku,
celanaku basah, aku kencing dicelana
orang tuaku menghampiriku, menanyai ku, aku tidak menjawab sepatah kata pun,
aku tidak bisa berkata- kata aku di berikan segelas air putih, aku minum aku mulai menenangkan diri cukup lama, dan setelah tenang aku menceritakan semua kejadian itu, dan tidak lama kemudian hujan turun.

keesokan harinya aku sakit demam panas tinggi 3 hari

inilah ceritaku, salah satu pengalaman horor yang tidak bisa aku lupakan, dan masih ada beberapa lagi kisah horor yang akan aku bagikan di lain kesempatan.

Terima kasih sudah membaca cerita ini.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jika kau membenci ku dengan seluruh hidupmu

Jika kau membenci ku dengan seluruh hidup mu, Dengan angin yang menghempas rasa sakitmu lagi, lagi dan lagi   Dengan air mata mu yang yang k...