Jumat, 15 Mei 2020

wanita di jembatan

Hallo ...

saya akan kembali bercerita tentang peristiwa (kejadian) horor kisah nyata

kejadian ini sebenarnya mirip dengan cerita saya sebelumnya yaitu,
"dikejar pocong"

tapi dengan set dan tempat yang berbeda
ini bukan cerita pribadi saya,
tapi ini cerita saudara saya (endang)
langsung saja,
seperti ini ceritanya...


Kami sekeluarga tinggal di area pedesaan yang asri, sejuk, dan tenang di kota Malang
kami tinggal di satu rumah sederhana,
ada ibuku, adikku laki-laki dan aku(endang)
ayahku sudah lama meninggal.


Singkat cerita


malam itu aku sedang mencuci piring,
adikku sudah beranjak ketempat tidur
dan ibuku sedang merapikan baju di lemari,
aku harus segera tidur
karena di keluarga kami kita selalu tidur cepat jam 8 saja sudah ngantuk sekali rasanya, maka aku mempercepat pekerjaan rumah ku yang terakhir mencuci piring...
kami selalu bangun pagi sekali,
biasanya ibuku bangun jam setengah 4
aku bangun jam 4 karena kita harus menyiapkan keperluan sekolah dan juga menyiapkan dagangan untuk ibu bawa kepasar,
adikku bangun paling akhir sekitar jam 5 biasanya,
kami terkadang shalat subuh bersama,
walaupun terkadang tidak sempat shalat juga,
entah karena kesiangan atau
karena memang selalu saja setiap pagi banyak pekerjaan yang harus kita lakukan.

Tugasku setelah bangun aku harus buang sampah di jembatan,
aku sendiri yang memilih tugas itu, tapi terkadang adikku yang buang sampah
lalu setelah buang sampah, aku membuat teh, setrika seragam sekolah, memompa air untuk mandi, mengisinya di ember-ember yang sudah di sediakan, dan kadang membantu ibu menyiapkan kue-kue untuk di bawa ibu berjualan di pasar.


Pagi itu aku bangun sekitar pukul 04:00
seperti biasa adikku masih tidur,
huuhh.. sengaja sekali dia setiap pagi seperti ini, "ujarku"

memang adikku ini sengaja tidak bangun lebih dulu supaya tidak buang sampah,
akhirnya aku beranjak keluar kamar,
aku langsung ke dapur mengambil ember sampah,
tapi kulihat kok ibu tidak ada
ah.. mungkin ibu di sumur jemur pakaian "fikirku"
memang kita punya sumur yang airnya sering kotor, jadi kita buat pompa saja, dan sumur ditutup dan di sekitar sumur dibuatkan tali jemuran,


lanjut aku berjalan sambil menenteng ember sampah,
aku melewati ruang tamu dan keluar lewat pintu depan
aku berjalan pelan karena ember sampah nya lumayan berat juga
tapi kok rasanya sepi banget ya
biasanya jam segini tuh udah ada bapak -bapak keluar rumah dengan sarung untuk shalat di masjid,
rumahku tidak jauh dari masjid hanya sekitar 50 meter.

aku berjalan sampai di depan masjid
aku lihat kok tidak ada orang ya di masjid,
tumben biasanya udah ada beberapa orang jam segini di masjid, juga ada saja ibu-ibu berjalan ke pasar sambil menuntun sepeda yang sepedanya di muat karung-karung sayur,
tapi kok ini sepi sekali ya
pada kemana ya orang-orang "fikirku"
ah sudahlah yang penting aku buang sampah saja
aku melanjutkan perjalanan,
sesampainya aku di satu persimpangan aku belok ke kiri
dan setelah belokan itu tidak jauh lagi jembatan hanya sekitar 100 meter lagi.

jalan panjang 100 meter itu mengarah menuju jembatan akan terasa jalan semakin menanjak, dan setelah jembatan jalan akan lebih menanjak lagi dan semakin tinggi jalan menanjak itu

aku harus membawa ember sampah yang memang cukup berat melawati jalan menanjak, cukup melelahkan juga
tapi aku tetap berjalan...
mendekati jembatan, aku melihat ada seorang wanita yang berperawakan cukup besar dan tinggi, ia menggenakan jubah putih panjang sampai menyentuh tanah, rambutnya hitam acak-acakan tapi panjang juga sampai menyentuh tanah,
mukanya tertutup rambutnya yang lebat,
wanita ini bersandar pada tiang jembatan, sambil dari balik jubahnya tangannya memain-mainkan rambutnya...
Aku yang masih kecil polos dan lugu berjalan menghampirinya,
dengan ramah aku mulai menegur membuka dialog dengan wanita itu,...

mba... laopo toh mba ndek kene?
arep ngenteni wong toh
(mba... ngapain disini? mau nungguin orang ya)
"wanita ini diam saja"
aku bertanya lagi ...

mba... arep nang pasar yoo?
ngenteni becak ndek jalan raya mba, ojo ndek kene,
(mba ... mau ke pasar ya? nungguin becak di jalan raya mba, jangan disini)
tapi lagi-lagi wanita diam saja ...
ah.. masa bodo lah "fikirku"

aku membuang isi ember sampah ke kali,
aku maju percis di sampingnya aku buang sampah dari atas jembatan,
setelah habis semua isi sampah di ember
aku kembali bertanya lagi, karena penasaran...

mba... arep nang pasar pagi yo mba?
(mba... mau ke pasar pagi ya mba?)

kali ini wanita ini seperti bergumam
seperti bicara pelan,
aku bingung ini mba kenapa sih ya,
lalu dengan sedikit kesal sedikit keras aku bertanya sambil sedikit membentak...

mbaaaaa... mbaaa nya laopoo sehhh, di tanyaaa kok meneng baeee....

lalu berikut nya aku kaget sekaget kagetnya,
mba ini tertawa cekikikan...
seperti suara "kuntilanak" tertawa hii hiiiih.....hihiiiiiii hiiiihiii.... nyaring sekali tepat di sampingku, .... suara tawa cekikikan itu semakin menjadi dan panjang... hiiiiiiiii....hiiiihiihiiiiii....hihiiiiiii......
aku mulai ketakutan bercampur kaget,

dengan respon cepat,
aku angkat ember sampah lalu aku lempar percis ke tubuhnya ....

lalu sosok "kuntilanak" itu terbang bersama gaun jubah putih panjangnya itu mengarah ke arah tanjakan, terbang begitu saja dengan cepat ...
sontak aku kaget sambil mundur satu langkah kebelakang,
aku lihat "kuntilanak" ini terbang,
tapi...
gaun putih nya masih ada di depanku juga rambutnya yang panjang...
ah... mulutku ternganga seakan tidak percaya...

aku mengambil langkah seribu,
berlari secepat mungkin menuju ke arah masjid lalu ke rumah...

aku terus berlari tidak perdulikan sekeliling,
aku tetap berlari kencang,
sesampainya di rumah aku membuka pintu lalu masuk ke kamar,
aku melihat ibu sedang tidur,
aku bangunkan ibu, ibu bangun sambil terkaget juga,
kamu kenapa ndok? tanya ibu...
kok kayak habis ngelihat demit gitu wajahmu...

aku ceritakan kejadian tadi, adikku bangun,
aku ceritakan semuanya...
ternyata ibu bilang...
kamu gimana sih ini tuh masih jam 2 malam...
ngapain kamu buang sampah jam segini ndok... di jembatan itu memang angker ...
aku melihat jam ternyata benar ini masih jam 2 .....

dan semenjak kejadian itu, kami tidak lagi buang sampah subuh, kami buang sampah sore ....




Ini sekilas cerita saudaraku di malang, masih ada beberapa cerita pengalaman mistis kisah nyata, cerita ku pribadi atau cerita-cerita orang terdekatku yang akan aku bagikan lagi.

terimakasih sudah membaca cerita ini.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jika kau membenci ku dengan seluruh hidupmu

Jika kau membenci ku dengan seluruh hidup mu, Dengan angin yang menghempas rasa sakitmu lagi, lagi dan lagi   Dengan air mata mu yang yang k...